Tertinggal
Pada perbatasan gelap terang itulah, aku menyisipkan sebuah doa. Sebuah kebaikan, yang tak bisa kulakukan. Membahagiakan semua orang terdekatku. Dalam egoisme aku berpetualang, mencari muara kebahagiaan. Aku berlari sendiri, menentukan arah sendiri, dan menemukan tujuan sendiri. Seperti nada tanpa kata, seperti irama detak jantung yang tiada lain hanya kau yang bisa merasakan. Sensasinya luar biasa, senang dan sempurna segalanya. Aku menjamah rumus untuk tak mau lama menunggu, dan tak ingin melibatkan orang lain dalam segalanya. Buat apa aku bercerita kepada orang lain tentangku? dan buat apa mereka harus tahu? masih tak kumengerti apa dan mengapa, hingga saat ini. Aku terlalu lelah menunggu dan banyak trauma dibuatnya. Gamang dan bimbang. Sunyi dan senap. Seperti melewatkan ribuan hari dengan suatu pengharapan, bergelayutan pada keberuntungan. Aku memilih langkah yang pasti, berjalan sesuau jalur, dan meneguk mata air terbaik. Siapa yang tak tergiur dibuatnya?
Tolong buatku mengerti mengapa aku harus terjerembab dalam cinta yang semu ? Tak ada janji kebahagiaan di akhir cerita, sehingga harus kulewati alurnya dengan air mata dan kepedihan. Itu yang kau sebut dengan cinta? Saling mengorbankan perasaan padahal ada seteru di baliknya. Semacam munafik saja, cinta yang sengit. Apa yang kau cari dalam mencinta jika hanya kesakitan ? Lalu, salahkah aku yang bersikap apatis tentang cinta? Ah, cinta. Buatku yang terlalu mudah jatuh padanya, itu terlalu berisiko bagiku. Aku tidak ingin mencintai orang yang salah, dan harus mengorbankan yang kucinta lainnya.
