Anantaria O. R 's blog

A woman's heart is an ocean of secrets....

  • 15th May
    2012
  • 15

Tertinggal

Pada perbatasan gelap terang itulah, aku menyisipkan sebuah doa. Sebuah kebaikan, yang tak bisa kulakukan. Membahagiakan semua orang terdekatku. Dalam egoisme aku berpetualang, mencari muara kebahagiaan. Aku berlari sendiri, menentukan arah sendiri, dan menemukan tujuan sendiri. Seperti nada tanpa kata, seperti irama detak jantung yang tiada lain hanya kau yang bisa merasakan. Sensasinya luar biasa, senang dan sempurna segalanya. Aku menjamah rumus untuk tak mau lama menunggu, dan tak ingin melibatkan orang lain dalam segalanya. Buat apa aku bercerita kepada orang lain tentangku? dan buat apa mereka harus tahu? masih tak kumengerti apa dan mengapa, hingga saat ini. Aku terlalu lelah menunggu dan banyak trauma dibuatnya. Gamang dan bimbang. Sunyi dan senap. Seperti melewatkan ribuan hari dengan suatu pengharapan, bergelayutan pada keberuntungan. Aku memilih langkah yang pasti, berjalan sesuau jalur, dan meneguk mata air terbaik. Siapa yang tak tergiur dibuatnya?

Tolong buatku mengerti mengapa aku harus terjerembab dalam cinta yang semu ? Tak ada janji kebahagiaan di akhir cerita, sehingga harus kulewati alurnya dengan air mata dan kepedihan. Itu yang kau sebut dengan cinta? Saling mengorbankan perasaan padahal ada seteru di baliknya. Semacam munafik saja, cinta yang sengit. Apa yang kau cari dalam mencinta jika hanya kesakitan ? Lalu, salahkah aku yang bersikap apatis tentang cinta? Ah, cinta. Buatku yang terlalu mudah jatuh padanya,  itu terlalu berisiko bagiku. Aku tidak ingin mencintai orang yang salah, dan harus mengorbankan yang kucinta lainnya. 

  • 15th May
    2012
  • 15

Sebuah maaf

Kenapa ya, kadang memaafkan itu sulit? Mungkin setelah melakukan kesalahan dan meminta maaf, ya sudah. Sekedar kata maaf pasti diterima (minimal didengar), namun kekecewaan hati yang sulit menerima. Kalau memang dengan meminta maaf itu cukup, lalu buat apa ada penjara? Mengapa ada hukuman?

Apakah sebuah maaf harus selalu bergandengan dengan keikhlasan untuk menerima hukuman? Entah hukuman dari yang memberi maaf, atau kesadaran untuk menghukum diri sendiri atas rasa bersalah.

Tuhan Maha Pemaaf, sebagai makhluk ciptaan-Nya maka sungguh angkuh jika tidak memberi maaf. Namun, bisakah disebut hal ini sebagai kelaziman atas keterbatasan manusia yang hanya manusia? 

Apakah maaf sudah lebih dari cukup?

  • 11th May
    2012
  • 11

Tiga Kali (untuk selamanya?)

Benar pepatah yang mengatakan bahwa cara terbaik untuk bijak terhadap ilmu adalah saat menjadikannya sebuah pengalaman. Selama ini sudah begitu banyak membaca buku-buku teks kedokteran gigi, anatomi manusia, morfologi, sistem organ, dan sebagainya. Memang menarik, tapi rasanya mudah terlupakan. Namun hari ini sepertinya hari ini cukup memutarbalikkan ilmu yang selama ini hanya kupelajari dalam otak tanpa pernah kualami langsung.

Sakit. Cara terbaik untuk mengingat betapa harus bersyukurnya kita kepada nikmat Allah SWT. Sudah tiga kali sepertinya aku merasa berada di tengah jembatan ringkih yang membawaku dari alam kehidupan menuju kematian. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi hanya aku yang benar-benar tahu dan merasakan. Semoga mau membaca.

Pertama kalinya adalah saat aku berusia 17 tahun, saat itu duduk di bangku kelas 3 SMA. Sempat ambruk empat hari dengan demam tinggi, trombosit rendah, dokter mendiagnosisnya gejala DBD. Tapi sungguh saat itu adalah saat-saat yang paling berat, dimana tubuhku melakukan fluktuasi tinggi terhadap temperatur, badan lemas, saat membuka mata yang kulihat hanya bercak warna abstrak, saat duduk aku tidak seimbang, saat berdiri aku jatuh. Pinggangku sakit karena sindrom menstruasi, yang membuat seluruh kakiku terbujur lemas dan linu. Pada saat itu ada waktu dimana aku hanya sendiri, tidak ada orang di rumah karena memang masih waktu kerja dan aku sedang libur (kalau tidak salah). Kuputuskan untuk tidak menghubungi siapapun, karena aku anggap aku masih bisa mentolerir tubuhku sendiri, hingga akhirnya aku tidak mampu lagi. Begitu didiagnosis gejala DBD, mami langsung mencekoki sepuluh kotak jus jambu batu yang katanya bisa menaikkan trombosit. Kupatuhi saja namun setelah itu memang efeknya aku phobia jus jambu hingga tiga bulan berikutnya. Aku pernah mengalami demam, pastinya demam saat ini bukanlah demam yag pertama. Namun, inilah saat pertama dimana aku seperti merasa sudah sangat sulit bernapas, membuka mata pun sulit, sekujur tubuh lemas tidak berdaya. Alhamdulillah, sepuluh hari kemudian aku membaik dan sangat bersyukur kepada Allah SWT. Aku memang makhluk yang tidak tahu malu.

Kedua kalinya saat aku berusia 18 tahun, saat setelah melakukan satu jam olahraga di sebuah tempat fitness. Memang sore itu aku merasa tidak begitu fit untuk berolahraga, namun sudah kucoba dengan meminum sekotak susu sebelum olahraga dan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Di perjalanan pulang (aku mengendarai motor sendiri), jantungku berdebar cepat, keringat dingin mengucur, aku lemas seketika, dan segala pandangan menjadi berwarna putih. Saat itu aku masih dalam keadaan melajukan motorku, hingga aku berdoa di dalam hati semoga aku tetap selamat hingga setidaknya aku meminggirkan motorku. Alhamdulillah, aku berhasil. Namun di tepi jalan itu (masih di atas motor) aku masih melihat segalanya putih, dan aku tetap berusaha bertahan pada posisiku. Aku sudah berpasrah jika saat itu ada motor/mobil yang mungkin sedang melaju kencang dibelakangku. Aku terus berdoa, hingga akhirnya 10 menit kemudian keadaan pun membaik. Pandanganku jelas kembali, dan perlahan detak jantungku normal kembali. Ya, mungkin saat itu aku seharusnya tidak memforsir untuk tetap berolahraga,karena aku yang sedang letih. Tapi hingga saat ini tidak ada seorangpun yang pernah kuceritakan tentang ini. 

Dan yang ketiga adalah hari ini, hari dimana pertama kalinya aku melakukan donor darah. Semalam memang aku kurang tidur, dan belum sarapan. Tapi saat melakukan donor darah aku tidak dalam keadaan benar-benar belum makan apapun, sudah sempat memakan kue paginya. Yang sedikit kukhawatirkan memang hanyalah tekanan darah. Semalam sempat kucek, agak rendah. Tapi saat akan donor darah, dokter mengatakan tekanan darahku normal (110/70), hanya saja Hb yang tinggi (15,2; normalnya 14 pada wanita). Kemudian operator pun mengambil darahku dan selesai. Aku sempat menstabilisasi tubuh sejenak dengan tetap berbaring, kemudian berdiri. Lalu semuanya tampak putih. Perutku tiba-tiba mual hebat, kepala sangat berat, badan lemas, hingga kudengar beberapa orang seperti mengingatkanku untuk segera duduk. Aku duduk kemudian tidak bertambah baik, jantungku semakin berdebar dan semakin mual. Aku merasa sesak napas, kemudian aku dibantu untuk berbaring di tempat tidur. Kemudian bagian kakiku ditinggikan, aku diberi aromaterapi. Di saat itu aku merasa seperti DeJa Vu, untuk yang ketiga kalinya. Rasanya sama, sulit bernapas, badan lemas, dan semua putih. Seperti melayang entah kemana, kemudian beberapa memori muncul, dan hilang. Itulah yang kurasakan.

Lalu, seperti itukah rasanya sakratul maut? Pasti lebih dan lebih, walau kadang aku penasaran. Saat sakit saja aku sudah merasa seperti itu, bagaimana jika malaikat Izrail yang melakukannya? Kemudian aku merasa sangat tidak tahu malu sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, karena hanya saat sakit seperti itu aku merasa bersyukur berjuta kali lipat. Aku sering lupa bersyukur saat sehat.

Saat menulis ini masih merasa pusing, entah pengaruh apa tapi aku hanya ingin menulis. Aku tidak mengantuk, tapi aku merasa lelah. Pada pengalaman sakit itulah aku kemudian belajar dan mencocokkan ilmu-ilmu yang sudah kuketahui, dan memahami penyebab dari apa yang kualami selama tiga kali itu, dan berusaha untuk tidak terjadi lagi. Semoga tiga kali cukup, untuk selamanya.

  • 9th May
    2012
  • 09
Thoughts are made of water and water always finds a way.
Dave Eggers, You Shall Know Our Velocity! (via bookmania)
  • 9th May
    2012
  • 09
  • 9th May
    2012
  • 09
I have no best way to express how much I love donut ! The taste in every bite conducts the nerves to send happiness to the whole body. For me, donut is not a question but it’s always an answeeeer !
It’s 02.10 am and I’m craving for donuts!

I have no best way to express how much I love donut ! The taste in every bite conducts the nerves to send happiness to the whole body. For me, donut is not a question but it’s always an answeeeer !

It’s 02.10 am and I’m craving for donuts!

(Source: pleaselovelulu, via pleaselovelulu)

  • 9th May
    2012
  • 09
Things end. People leave. And you know what? Life goes on. Besides, if bad things didn’t happen, how would you be able to feel the good ones?
Elizabeth Scott (via kari-shma)

(via quote-book)

  • 9th May
    2012
  • 09

Raut Pikir yang Ruwet

Ternyata mata lelah dan rasa kantuk bukanlah isyarat untuk segera merebahkan badan dan beristirahat, sebab mata ini tak juga kunjung terpejam. Inilah mengapa kita harus selalu mengingat Tuhan, sang Maha Pencipta yang menciptakan satu kesatuan tubuh yang begitu kompleks dan saling berkorelasi. Mengingat hal ini kemudian semacam memberikan pemahaman akan penyebab mata yang tak juga ingin terlelap. Banyak hal yang sedang terpikirkan, sehingga para saraf sepertinya sedang bersekongkol untuk sedikit menikung terhadap komunitas mata dan organ yang sedang lelah lainnya.

Percayakah kamu terhadap kebetulan? Pribadi, aku sebenarnya tidak. Aku percaya bahwa satu milimeter saja pergerakan jari telunjukku ke huruf A pada keyboard saat ini, segalanya atas izin Tuhan. Namun aku kini sedang mempertanyakan pertemuan. Mengapa Tuhan mempertemukan kita - yang seolah terikat pada satu jerat perasaan, yang memabukkan hingga terjebak ke dalamnya? Entah siapa duluan yang terjebak, mungkin saja aku atau kamu, atau hanya aku saja. Itupun aku tidak dapat memastikan. Mengapa perasaan itu muncul di saat yang tepat terhadapmu ? Mengapa kamu dan bukan orang lain ? Jika saat itu aku memutuskan untuk berada pada dimensi dunia lain, maka kita tidak akan bertemu dan tidak akan ada perasaan ini.  Lalu ada rahasia apa di balik pertemuan ? 

Ini sebenarnya seperti sebuah pertemuan singkat, karena perasaan ini sedang memberi signal bahwa perpisahan akan segera menghampiri. Atau Tuhan memang sengaja mengaturnya karena saat ini adalah saat yang tepat ? Aku begitu menyayangkan perpisahan itu kelak, sebab waktu ini begitu tepat. Saat ini. Yang sudah begitu lama dinanti, walau memang tak ada yang abadi. Dalam bakti diri terhadap kendali hati, aku ibarat lilin saat ini dan kamulah pemantiknya : secara teori dan praktik aku pasti akan leleh atas kehadiranmu. Namun kemudian sebuah wadah datang dan membekapku. Kamu padam dan aku tetap berdiri, namun dalam keadaan sudah tanpa bentuk. Kamu kehabisan oksigen. Bisakah kuibaratkan wadah sebagai waktu dan oksigen adalah suasanamu ? Lalu aku sebagai lilin - yang tak berdaya terhadap perlakuan apapun, seolah diatur oleh apa yang terjadi padaku.

Pada sore itu, aku bertemu dengan seorang wanita yang kuanggap seperti malaikat kiriman Tuhan. Waktu benar-benar tidak mengintervensi perbincangan aku dengan dia, sehingga percakapan itu benar-benar terasa lancar dan nyaman padahal aku baru saja mengenalnya. Biasanya, aku cukup membutuhkan waktu untuk bisa beradaptasi dalam bercakap kepada orang yang baru kukenal. Kuceritakan ia ceritaku, lalu ia membeberkan segenap fakta yang jika kucocokkan denganmu, hampir seluruhnya benar. Ia meraba watak, kehidupan, dan tujuan hidupmu. Ajaib, aku tercengang mendengarnya. Lalu memang ada beberapa kalimat yang cukup menyesakkanku, walau kutahu itu sebenarnya benar tapi aku sedang tidak ingin mengiyakan kebenaran pahit itu. 

Aku kini ingin sekali bertemu wanita itu, dan menanyakan tentang pertemuan dan perpisahan yang sedang berimaji dalam pikiranku saat ini. Sepertinya aku sudah lelah, sudah selesai menuliskannya. 

Semoga subjek yang kumaksud dalam cerita ini, sedang tertidur pulas dan nyaman disana. Good night.